Tanpa terasa kita sudah sampai pada minggu terakhir di bulan Agustus dan itu berarti minggu ini adalah Penutupan dari Bulan Musik 2011. Bagaimana keseluruhan Bulan Musik tahun ini? Dan masih ingatkah kita apa yang menjadi khotbah selama 3 minggu kemarin?
Minggu, 7 Agustus 2011 mengangkat tema “Mengarungi Badai Dengan Iman”. Masih ingatkah kita dengan video yang diputar? Ada seseorang yang berada dalam keadaan terjepit karena tempatnya berpijak mulai roboh, ketika dia berteriak minta tolong pada Tuhan, Tuhan menyuruhnya melompat. Tapi dia ragu-ragu untuk melompat, walaupun pada akhirnya melompat juga. Kadangkala kita seperti orang dalam video tersebut. Ketika kita mengalami masalah kita meminta pertolongan Tuhan, tapi ketika Tuhan sudah memberikan jalan keluar kita malah cenderung menolak jalan keluar dari Tuhan tersebut karena jalan keluar itu tidak sesuai dengan apa yang kita mau. Padahal seharusnya kita menyadari kalau jalan keluar yang Tuhan berikan itu pasti yang terbaik buat kita. Dan pada minggu itu, diperkenalkan seorang tokoh yakni Charles Wesley, yang lewat syair lagu KJ 30 A Angin Ribut Menyerang ingin mengingatkan kita kalau Tuhan mengizinkan badai menyerang hidup kita, Ia ingin membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik, lebih kuat lagi. Dan ketika kita mengarungi badai tersebut, biarlah Tuhan saja yang menjadi pandu kita sehingga kita bisa sampai di labuhan yang teduh.
Minggu, 14 Agustus 2011 mengangkat tema “Berkat Allah Menjangkau Semua Bangsa”. Tuhan tidak pernah membeda-bedakan berdasarkan suku, ras, ataupun bangsa. Lalu mengapa kita suka sekali membeda-bedakan? Dan pada minggu itu, diperkenalkan ‘father of modern worship music’ yakni Graham Kendrick. Lewat lagu Shine Jesus Shine, Graham Kendrick menuangkan kerinduannya untuk kebangunan rohani dalam gereja-gereja dan bangsa-bangsa terus tumbuh.
Minggu, 21 Agustus 2011 mengangkat tema “Tuhan Dasar Segala Sesuatu”. Mengingatkan kita untuk melakukan segala sesuatu dengan Tuhan sebagai dasarnya, jadi setiap hal yang kita lakukan haruslah selaras dengan kehendakNya. Dan di minggu itu kita kembali berkenalan dengan keluarga Wesley yakni Samuel Sebastian Wesley pengarang lagu KJ 252 Batu Penjuru G’reja.
Lalu untuk Minggu ini, 28 Agustus 2011 mengangkat tema “Memaknai Hidup dengan Taat dan Setia Berkarya Bagi Tuhan”. Bisa dibilang ini merupakan rangkuman dari ketiga tema sebelumnya, di mana kita sudah belajar kalau Tuhan haruslah menjadi dasar kita dalam melakukan sesuatu dan juga Tuhan akan selalu bersama kita, memimpin kita menjalani hidup ini dalam keadaan suka maupun duka. Lalu apa respon kita? Seharusnya kita mempunyai hidup yang sesuai kehendakNya, taat dan setia padaNya. Juga karena kita telah menerima berkat yang begitu melimpah dariNya, hendaklah kita juga membagikan berkat tersebut kepada semua orang tanpa membeda-bedakan. Lalu setiap kita pastilah diberikan talenta oleh Tuhan dan sebagai wujud rasa syukur kita, haruslah kita memakai talenta tersebut untuk berkarya bagi Tuhan.
Selamat Memaknai Hidup.
Warta Jemaat GKI Sunter Mas 28 Agustus 2011
Can freely express everything .. Happiness, Disappointment, even "galau" was allowed .. hahaha .. coz through writing, can reveal all the thing more honest .. :)
Translate
Thursday, August 25, 2011
ANTONIUS SOETANTA, SJ
Setelah 3 minggu berturut-turut kita dikenalkan dengan Inspiring People yang berasal dari luar negeri, pada minggu terakhir ini kita akan melihat bahwa ada juga loh Inspiring People yang berasal dari negeri kita sendiri. Salah satunya adalah Antonius Soetanta, SJ. Kalau di dalam Kidung Jemaat ataupun Pelengkap Kidung Jemaat dapat kita temui hasil karya beliau dengan nama A. Soetanta S.J. Beliau lahir di Semarang (Jawa Tengah) pada 23 Agustus 1938. Beliau memperoleh pendidikan musik selama 7 tahun (1952-1959) di Seminari Menengah Mertoyudan Magelang di bawah asuhan Romo van Waesberghe Smits, SJ dan beliau telah mempelajari biola, harmonium (keyboard), dan menjadi anggota orchestra simfoni, dan bergabung dalam paduan suara.
Beliau lulus dari Institut Musik Gereja di Utrecht (Belanda) pada tahun 1997, jurusan Conducting and Organ pipes. Ia juga menulis lagu-lagu gereja yang 4 suara, lagu injil untuk anak-anak yang dirangkum dalam buku “Ho..Ho..Hosana” terbitan Yamuger, dan beberapa buah lagu dalam Kidung Jemaat, Pelengkap Kidung Jemaat, dan Puji Syukur. Beliau juga adalah anggota Tim Inti Nyanyian Gereja (TING) Yamuger. Lagu-lagunya yang terkenal dalam buku nyanyian jemaat , antara lain: KJ 22 (Mari Bersukaria Datang Kepada-Nya), KJ 50a (Sabda-Mu Abadi), KJ 77 (Hatiku Bersukaria), dan KJ 360 (Biar kanak-kanak datang kepada-Ku), PKJ 186 (Damai Sejahtera Allah). Salah satunya ada yang kita nyanyikan pada hari ini yakni KJ 50a (SabdaMu Abadi). Lirik asli lagu ini dibuat oleh Henry Wiliam Baker pada 1861.
Kalau selama ini kita hanya mengenal Inspiring People seperti Fanny J Crosby, John Newton diharapkan setelah 4 minggu ini, pengetahuan kita tentang Inspiring People lainnya bertambah. Terutama lewat sosok A.Soetanta S.J ini kita dapat mengetahui bahwa ada juga orang-orang dari dalam negara kita sendiri yang berpengaruh/berkontribusi langsung untuk perkembangan musik gereja. Selain A.Soetanta S.J ada juga nama-nama lain seperti H.A Pandopo, A.Simanjuntak,dll.
Warta Jemaat GKI Sunter Mas 28 Agustus 2011
Saturday, August 20, 2011
Samuel Sebastian Wesley
Setelah 2 minggu lalu kita dikenalkan pada Charles Wesley, kali ini kita juga akan kembali dikenalkan dengan salah satu keluarga Wesley yakni Samuel Sebastian Wesley. Samuel Sebastian Wesley lahir di London, 14 Agustus 1810 dan meninggal 19 April 1876, merupakan cucu dari Charles Wesley. Ia adalah seorang organis dan komposer musik gereja Inggris terbesar pada zamannya.
Samuel Sebastian Wesley mengawali kariernya dengan menjadi anggota paduan suara di Royal Chapel pada usia 10 tahun dan pada usia 16 tahun, ia menjadi organis di tiga gereja di London. Pada tahun 1832, ia ditunjuk menjadi organis di Kathedral Hereford dan pindah ke Kathedral Exeter tiga tahun kemudian. Pada tahun 1839 ia menerima kedua gelar Bachelor of Music dan gelar Doktor musik dari Oxford. Ia menjadi profesor organ di Royal Academy of Music pada tahun 1850. Wesley mulai menulis musik religius ketika ia berusia 16. Secara keseluruhan, ia menulis 38 lagu kebangsaan dan banyak himne.
Seperti yang telah dikatakan pada renungan di depan, lagu pujian yang dibawakan setelah khotbah yakni KJ 252 Batu Penjuru G’reja (The Church’s One Foundation) merupakan ciptaan dari Samuel Sebastian Wesley yang diciptakan pada tahun 1864 dan syairnya diciptakan oleh Samuel John Stone pada 1866.
Batu Penjuru G’reja dan Dasar yang esa
Yaitu Yesus Kristus, Pendiri umatNya
Dengan kurban darahNya Gereja ditebus
Baptisan dan firmanNya membuatnya kudus
The Church's one foundation is Jesus Christ her Lord
she is his new creation, by water and the word
from heaven he came and sought her to be his holy bride
with his own blood he bought her, and for her life he died.
Sumber: (http://www.cyberhymnal.org/bio/w/e/s/wesley_ss.htm)
Warta Jemaat GKI Sunter Mas 21 Agustus 2011
Yesus Sang Batu Penjuru G’reja dan Dasar yang Esa
Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. (Efesus 2:19-20)
Hari ini, kita sebagai Gereja Kristen Indonesia merayakan 23 tahun perjalanan bersama. Berbagai dinamika telah mewarnai perjalanan selama 23 tahun tersebut. Dengan mengangkat tema "Tuhan Dasar Segala Sesuatu", ingin mengingatkan kembali bahwa tanpa Tuhan, tidak akan mungkin kita dapat sampai di usia yang ke-23 ini.
Lagu KJ 252 "Batu Penjuru G’reja" (The Church’s One Foundation) yang dibawakan pada kebaktian hari ini sangat cocok dengan tema yang diangkat, Yesuslah Sang Batu Penjuru G’reja dan Dasar yang Esa. Lagu ini dibuat Samuel Sebastian Wesley pada 1864 dan syairnya dibuat oleh Samuel John Stone pada 1866. Lagu ini ditulis sebagai respon langsung dari pengajaran oleh John William Colenso yang membuat perpecahan/pemisahan (schism) antar gereja di Afrika Selatan.
Though with a scornful wonder men see her sore oppressed,
by schisms rent asunder, by heresies distressed;
yet saints their watch are keeping, their cry goes up, "How long?"
and soon the night of weeping shall be the morn of song.
Dilanda perpecahan dan faham yang sesat
Jemaat diresahkan tekanan yang berat
Kaum kudus menyerukan, “berapa lamakah?”
Akhirnya malam duka diganti trang cerah
"Schism" adalah pembagian/pengelompokan di antara orang-orang, biasanya terjadi di sebuah organisasi atau denominasi gerakan keagamaan. Namun biasanya kata ini digunakan untuk menunjukkan adanya perpecahan dari yang tadinya 1 menjadi banyak. Sedangkan Schismatic adalah orang yang menyebabkan terjadinya perpecahan.
Lalu, apa sih sebenarnya batu penjuru itu? Batu penjuru yang dalam bahasa Yunani akrogonyaios merupakan batu dalam bentuk khusus, yang digunakan untuk menjadi pengikat pada sebuah bangunan pada jaman dahulu di Israel. Batu penjuru memiliki bentuk khusus agar dapat berfungsi sebagai pengikat, dan harus ditempatkan di tempat yang tepat untuk dapat mengikat struktur bangunan tersebut. Biasanya batu penjuru diletakkan di sudut tembok.
Nah, apa hubungannya "Tuhan Dasar Segala Sesuatu, Batu Penjuru" dan "Schism"? Di dalam gereja, rentan sekali akan timbulnya konflik-konflik. Perbedaan pendapat sedikit cenderung dapat membuat orang terpecah menjadi kelompok-kelompok. Jika tidak disikapi dengan bijaksana, kelompok-kelompok ini yang selanjutnya dapat menimbulkan perpecahan di dalam gereja. Padahal perlu diingat, ketika kita berada di dalam gereja, seharusnya ketika membuat keputusan bukan lagi untuk memenuhi kepuasan ego kita semata tetapi seharusnya diselaraskan dengan kehendak Tuhan. Dan yang terpenting, ketika ada permasalahan hendaklah itu tidak membuat kita undur dalam pelayanan. Biarlah Tuhan yang menjadi dasar kita dalam melakukan segala sesuatu.
Warta Jemaat GKI Sunter Mas 21 Agustus 2011
Hari ini, kita sebagai Gereja Kristen Indonesia merayakan 23 tahun perjalanan bersama. Berbagai dinamika telah mewarnai perjalanan selama 23 tahun tersebut. Dengan mengangkat tema "Tuhan Dasar Segala Sesuatu", ingin mengingatkan kembali bahwa tanpa Tuhan, tidak akan mungkin kita dapat sampai di usia yang ke-23 ini.
Lagu KJ 252 "Batu Penjuru G’reja" (The Church’s One Foundation) yang dibawakan pada kebaktian hari ini sangat cocok dengan tema yang diangkat, Yesuslah Sang Batu Penjuru G’reja dan Dasar yang Esa. Lagu ini dibuat Samuel Sebastian Wesley pada 1864 dan syairnya dibuat oleh Samuel John Stone pada 1866. Lagu ini ditulis sebagai respon langsung dari pengajaran oleh John William Colenso yang membuat perpecahan/pemisahan (schism) antar gereja di Afrika Selatan.
Though with a scornful wonder men see her sore oppressed,
by schisms rent asunder, by heresies distressed;
yet saints their watch are keeping, their cry goes up, "How long?"
and soon the night of weeping shall be the morn of song.
Dilanda perpecahan dan faham yang sesat
Jemaat diresahkan tekanan yang berat
Kaum kudus menyerukan, “berapa lamakah?”
Akhirnya malam duka diganti trang cerah
"Schism" adalah pembagian/pengelompokan di antara orang-orang, biasanya terjadi di sebuah organisasi atau denominasi gerakan keagamaan. Namun biasanya kata ini digunakan untuk menunjukkan adanya perpecahan dari yang tadinya 1 menjadi banyak. Sedangkan Schismatic adalah orang yang menyebabkan terjadinya perpecahan.
Lalu, apa sih sebenarnya batu penjuru itu? Batu penjuru yang dalam bahasa Yunani akrogonyaios merupakan batu dalam bentuk khusus, yang digunakan untuk menjadi pengikat pada sebuah bangunan pada jaman dahulu di Israel. Batu penjuru memiliki bentuk khusus agar dapat berfungsi sebagai pengikat, dan harus ditempatkan di tempat yang tepat untuk dapat mengikat struktur bangunan tersebut. Biasanya batu penjuru diletakkan di sudut tembok.
Nah, apa hubungannya "Tuhan Dasar Segala Sesuatu, Batu Penjuru" dan "Schism"? Di dalam gereja, rentan sekali akan timbulnya konflik-konflik. Perbedaan pendapat sedikit cenderung dapat membuat orang terpecah menjadi kelompok-kelompok. Jika tidak disikapi dengan bijaksana, kelompok-kelompok ini yang selanjutnya dapat menimbulkan perpecahan di dalam gereja. Padahal perlu diingat, ketika kita berada di dalam gereja, seharusnya ketika membuat keputusan bukan lagi untuk memenuhi kepuasan ego kita semata tetapi seharusnya diselaraskan dengan kehendak Tuhan. Dan yang terpenting, ketika ada permasalahan hendaklah itu tidak membuat kita undur dalam pelayanan. Biarlah Tuhan yang menjadi dasar kita dalam melakukan segala sesuatu.
Warta Jemaat GKI Sunter Mas 21 Agustus 2011
Sunday, August 14, 2011
Graham Kendrick
Shine, Jesus, shine
Fill this land with the Father's glory
Blaze, Spirit, blaze
Set our hearts on fire
Flow, river, flow
Flood the nations with grace and mercy
Send forth your word
Lord, and let there be light
Merasa akrab dengan lirik lagu tersebut? Ya. Itu adalah sepotong lirik dari lagu Shine Jesus Shine yang belakangan ini sering dinyanyikan dimana-mana. Lagu tersebut merupakan ciptaan Graham Kendrick pada tahun 1987.
Graham Kendrick lahir pada 2 Agustus 1950 di Blisworth, Inggris. Ia adalah anak dari seorang pendeta gereja Baptis. Graham Kendrick yang sekarang dikenal sebagai ‘father of modern worship music’ mengawali karir menulis lagu pada tahun 1960-an. Pada tahun 1995, Graham Kendrick mendapat penghargaan Dove Award. Dove Award adalah Penghargaan di bidang musik Kristiani. Pada tahun 2000, Graham Kendrick dianugerahi Honorary Doctorate in Divinity (DD) dari Brunei University. Honorary Doctorate in Divinity ini diberikan sebagai bentuk penghargaan terhadap kontribusinya untuk kehidupan gereja. Selain itu, Graham Kendrick juga dianugerahi DD dari Wycliffe College in Toronto, Canada pada May 2008.
Seperti kerinduan Graham Kendrick yang dituangkannya lewat lagu Shine Jesus Shine, yakni untuk kebangunan rohani dalam gereja-gereja dan bangsa-bangsa itu tumbuh. Biarlah kita pribadi sebagai gereja juga semakin bertumbuh di dalam iman kita dan dapat mewujudnyatakannya lewat tindakan-tindakan kita sehingga nama Yesus saja yang semakin dimuliakan.
Warta GKI Sunter Mas 14 Agustus 2011
Fill this land with the Father's glory
Blaze, Spirit, blaze
Set our hearts on fire
Flow, river, flow
Flood the nations with grace and mercy
Send forth your word
Lord, and let there be light
Merasa akrab dengan lirik lagu tersebut? Ya. Itu adalah sepotong lirik dari lagu Shine Jesus Shine yang belakangan ini sering dinyanyikan dimana-mana. Lagu tersebut merupakan ciptaan Graham Kendrick pada tahun 1987.
Graham Kendrick lahir pada 2 Agustus 1950 di Blisworth, Inggris. Ia adalah anak dari seorang pendeta gereja Baptis. Graham Kendrick yang sekarang dikenal sebagai ‘father of modern worship music’ mengawali karir menulis lagu pada tahun 1960-an. Pada tahun 1995, Graham Kendrick mendapat penghargaan Dove Award. Dove Award adalah Penghargaan di bidang musik Kristiani. Pada tahun 2000, Graham Kendrick dianugerahi Honorary Doctorate in Divinity (DD) dari Brunei University. Honorary Doctorate in Divinity ini diberikan sebagai bentuk penghargaan terhadap kontribusinya untuk kehidupan gereja. Selain itu, Graham Kendrick juga dianugerahi DD dari Wycliffe College in Toronto, Canada pada May 2008.
Seperti kerinduan Graham Kendrick yang dituangkannya lewat lagu Shine Jesus Shine, yakni untuk kebangunan rohani dalam gereja-gereja dan bangsa-bangsa itu tumbuh. Biarlah kita pribadi sebagai gereja juga semakin bertumbuh di dalam iman kita dan dapat mewujudnyatakannya lewat tindakan-tindakan kita sehingga nama Yesus saja yang semakin dimuliakan.
Warta GKI Sunter Mas 14 Agustus 2011
Inspiring People Inspiring Story
Berikut ini adalah percakapan yang ter jadi di antara dua orang Jemaat pada saat kebaktian telah selesai.
Jemaat 1 : “Wah, tadi suasana ruang ke baktian kita berbeda ya ? Nuansa musiknya juga berbeda.”
Jemaat 2 : “Maksudnya, beda ‘gimana ?”
Jemaat 1 : “Loh ? Memang tadi kamu ‘ga merhatiin dekor ruang kebaktian ? Trus ‘ga dengerin musiknya juga ?”
Jemaat 2 : “’Ga tuh. Tadi aku dateng ke baktiannya pas udah mulai khotbah. Mana sempet aku merhatiin dekor ruang kebaktian. Trus pas musik main, aku lagi bales BBM, jadi ‘ga dengerin. Memang ada apa sih di kebaktian minggu ini ?”
Dari percakapan dua orang Jemaat di atas, Anda termasuk kategori Jemaat yg mana nih ? Jemaat 1, yang sadar dengan adanya perubahan yg terjadi atau seperti Jemaat 2, yg tidak tahu menahu dengan keadaan sekitar ? Kalau Anda menjawab Anda nih seperti Jemaat 1, berarti Anda bisa menebak donk apa dan kenapa sih ada yang berbeda di minggu ini ? Yupp ... Betul banget buat yang menjawab, “Bulan Musik”. Hal itu bisa terlihat dari berbagai alat musik yang ada di tembok-tembok dan berbagai ornamen lain di sekeliling ruang kebaktian.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, bulan Agustus di Jemaat GKI Sunter Mas selalu identik dengan Bulan Musik. Untuk tahun ini Panitia Bulan Musik mengangkat tema, “Inspiring People, Inspiring Story”. Dan selama 4 Minggu di bulan Agustus kita akan diperkenalkan dengan 4 Inspiring People, yakni Charles Wesley (7 Agustus), Graham Kendrick (14 Agustus), Samuel Wesley (21 Agustus), dan A. Soetanta S.J (28 Agustus). Siapakah mereka ? Mereka adalah komposer-komposer yang ber kontribusi menciptakan hymn-hymn yang sekarang dapat kita nikmati lewat nyanyian yang ada di KJ, NKB maupun PKJ. Di setiap minggunya akan ada ulasan biografi komposer-komposer tersebut (Inspiring Story).
Mungkin ada yang bertanya-tanya mengapa di dalam daftar Inspiring People, tidak menemukan nama besar seperti, Fanny J. Crosby ataupun John Newton ? Sebagian besar dari kita pasti sudah mengenal nama-nama tersebut & sudah tau tentang kisah hidupnya, maka dari itu kami ingin ‘memperkenalkan’ komposer-komposer hebat lain agar dapat memper kaya pengetahuan kita. Kami juga ingin membuat kita mengetahui kisah dibalik lahirnya syair-syair ciptaan para komposer tersebut, agar kita dapat lebih mengerti dan lebih menghayati dalam menyanyikan lagu tersebut. Yang terpenting, agar kita dapat belajar dari pergumulan hidup para komposer dan kita dapat semakin merasa kan kehadiran dan penyertaan Tuhan.
Dan pada Bulan Musik kali ini, dalam setiap kebaktian akan diusung jenis Musik Akustik dan kita juga akan diiringi oleh Tim Musik dari GKI Agus Salim, GKI Cikarang, GKI Melur dan didukung juga oleh Tim Musik Remaja-Pemuda GKI Sunter Mas.
Jadi, memang, sebaiknya kita men jadi Jemaat yang sadar dengan keadaan sekitar kita, bahkan ketika suatu perubah an itu terjadi. Dan sebaiknya juga kita tidak datang terlambat dalam kebaktian. Karena kebaktian merupakan satu rangkai an ibadah yang mempunyai makna ter sendiri yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Di dalamnya bukan hanya khotbah saja yang memegang peranan penting dalam kebaktian, tapi juga ada Votum, Salam, Pengakuan Dosa, Berita Anugerah, dll. Dengan komitmen dan disiplin diri sendiri, hendaknya kita memper siapkan hati saat akan memasuki ibadah. Datang tidak terlambat (minimal tepat waktu) dan tidak sibuk dengan Hand Phone saat kebaktian, agar kita dapat menikmati ibadah yg berlangsung dengan hikmat, yang memberi inspirasi untuk kita mengalami perubahan diri menjadi lebih baik. Selamat beribadah.
TUHAN memberkati.
Warta GKI Sunter Mas 7 Agustus 2011
Jemaat 1 : “Wah, tadi suasana ruang ke baktian kita berbeda ya ? Nuansa musiknya juga berbeda.”
Jemaat 2 : “Maksudnya, beda ‘gimana ?”
Jemaat 1 : “Loh ? Memang tadi kamu ‘ga merhatiin dekor ruang kebaktian ? Trus ‘ga dengerin musiknya juga ?”
Jemaat 2 : “’Ga tuh. Tadi aku dateng ke baktiannya pas udah mulai khotbah. Mana sempet aku merhatiin dekor ruang kebaktian. Trus pas musik main, aku lagi bales BBM, jadi ‘ga dengerin. Memang ada apa sih di kebaktian minggu ini ?”
Dari percakapan dua orang Jemaat di atas, Anda termasuk kategori Jemaat yg mana nih ? Jemaat 1, yang sadar dengan adanya perubahan yg terjadi atau seperti Jemaat 2, yg tidak tahu menahu dengan keadaan sekitar ? Kalau Anda menjawab Anda nih seperti Jemaat 1, berarti Anda bisa menebak donk apa dan kenapa sih ada yang berbeda di minggu ini ? Yupp ... Betul banget buat yang menjawab, “Bulan Musik”. Hal itu bisa terlihat dari berbagai alat musik yang ada di tembok-tembok dan berbagai ornamen lain di sekeliling ruang kebaktian.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, bulan Agustus di Jemaat GKI Sunter Mas selalu identik dengan Bulan Musik. Untuk tahun ini Panitia Bulan Musik mengangkat tema, “Inspiring People, Inspiring Story”. Dan selama 4 Minggu di bulan Agustus kita akan diperkenalkan dengan 4 Inspiring People, yakni Charles Wesley (7 Agustus), Graham Kendrick (14 Agustus), Samuel Wesley (21 Agustus), dan A. Soetanta S.J (28 Agustus). Siapakah mereka ? Mereka adalah komposer-komposer yang ber kontribusi menciptakan hymn-hymn yang sekarang dapat kita nikmati lewat nyanyian yang ada di KJ, NKB maupun PKJ. Di setiap minggunya akan ada ulasan biografi komposer-komposer tersebut (Inspiring Story).
Mungkin ada yang bertanya-tanya mengapa di dalam daftar Inspiring People, tidak menemukan nama besar seperti, Fanny J. Crosby ataupun John Newton ? Sebagian besar dari kita pasti sudah mengenal nama-nama tersebut & sudah tau tentang kisah hidupnya, maka dari itu kami ingin ‘memperkenalkan’ komposer-komposer hebat lain agar dapat memper kaya pengetahuan kita. Kami juga ingin membuat kita mengetahui kisah dibalik lahirnya syair-syair ciptaan para komposer tersebut, agar kita dapat lebih mengerti dan lebih menghayati dalam menyanyikan lagu tersebut. Yang terpenting, agar kita dapat belajar dari pergumulan hidup para komposer dan kita dapat semakin merasa kan kehadiran dan penyertaan Tuhan.
Dan pada Bulan Musik kali ini, dalam setiap kebaktian akan diusung jenis Musik Akustik dan kita juga akan diiringi oleh Tim Musik dari GKI Agus Salim, GKI Cikarang, GKI Melur dan didukung juga oleh Tim Musik Remaja-Pemuda GKI Sunter Mas.
Jadi, memang, sebaiknya kita men jadi Jemaat yang sadar dengan keadaan sekitar kita, bahkan ketika suatu perubah an itu terjadi. Dan sebaiknya juga kita tidak datang terlambat dalam kebaktian. Karena kebaktian merupakan satu rangkai an ibadah yang mempunyai makna ter sendiri yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Di dalamnya bukan hanya khotbah saja yang memegang peranan penting dalam kebaktian, tapi juga ada Votum, Salam, Pengakuan Dosa, Berita Anugerah, dll. Dengan komitmen dan disiplin diri sendiri, hendaknya kita memper siapkan hati saat akan memasuki ibadah. Datang tidak terlambat (minimal tepat waktu) dan tidak sibuk dengan Hand Phone saat kebaktian, agar kita dapat menikmati ibadah yg berlangsung dengan hikmat, yang memberi inspirasi untuk kita mengalami perubahan diri menjadi lebih baik. Selamat beribadah.
TUHAN memberkati.
Warta GKI Sunter Mas 7 Agustus 2011
Charles Wesley
Charles Wesley lahir di Epworth, Lincolnshire, England, 18 Desember 1707 dan meninggal di London, England, 29 Maret 1788 pada umur 80 tahun. Charles Wesley adalah pemimpin gerakan Metodis di Inggris, anak dari pendeta Gereja Anglikan dan penyair Samuel Wesley, merupakan adik kandung dari pendeta gereja Metodis John Wesley.
Setelah Charles Wesley & John Wesley menyelesaikan studinya di Universitas Oxford, mereka menyerahkan diri untuk menjadi pekabar injil. Namun ironisnya walaupun sudah pelayanan, mereka masih ragu akan keselamatan, sampai suatu ketika setelah kepulangannya ke London, Charles Wesley di undang untuk mengikuti Persekutuan Kristen yang diada kan di sebuah pabrik logam. Dalam per sekutuan yang diadakan pada 21 Mei 1738 itu, hati Charles Wesley sangat tersentuh dan ia mengalami pertobatan sejati. Tindakan Charles Wesley sebagai orang Kristen yang sudah dilahirkan kembali ialah mulai pelayanan dengan semangat dan cara yang baru. Selain menginjili dan mengajar di seluruh Inggris, Charles Wesley pun banyak mengarang syair lagu rohani.
Syair yang diciptakan Charles Wesley antara lain KJ.6 (Hai Masyhurkanlah), KJ.16 (Ya Khalik Semesta), KJ.30 (Angin Ribut Menyerang), KJ.31 (Mungkinkah Aku Pun Serta), Dengarlah Malak Menyanyi (Hark ! The Herald Angels Sing), dll. Salah satunya kita nyanyikan pada hari minggu ini yakni KJ.30A “Angin Ribut Menyerang” (Jesus Lover of My Soul). Syair lagu ini diciptakan saat Charles Wesley sedang berada di daerah Killyleagh, Irlandia. Di sana dia di serang oleh sekelompok orang yg tidak se paham dengan doktrinnya. Sehingga dia melarikan diri dan bersembunyi di bela kang rumah susu (tempat dimana sapi-sapi diperah/diambil susunya). Pada kondisi tersebut, dia menulis hymn abadi ini.
Jesus, lover of my soul,
let me to Thy bosom fly,
While the nearer waters roll,
while the tempest still is high.
Hide me, O my Savior, hide,
till the storm of life is past;
Safe into the haven guide;
O receive my soul at last
Angin ribut menyerang
menggetarkan hatiku
Ombak ganas menerjang,
aku lari padaMu
Juruslamat tolonglah
dan pandukan bidukku
Hingga sampailah
di labuhan yang teduh.
Ingatlah, jika Tuhan mengizinkan badai menyerang hidup kita, Ia ingin mem bentuk kita menjadi pribadi yg lebih baik, lebih kuat lagi. Dan ketika kita mengarungi badai tersebut, biarlah Tuhan saja yang menjadi pandu kita sehingga kita bisa sampai di labuhan yang teduh.
Warta GKI Sunter Mas 7 Agustus 2011
Setelah Charles Wesley & John Wesley menyelesaikan studinya di Universitas Oxford, mereka menyerahkan diri untuk menjadi pekabar injil. Namun ironisnya walaupun sudah pelayanan, mereka masih ragu akan keselamatan, sampai suatu ketika setelah kepulangannya ke London, Charles Wesley di undang untuk mengikuti Persekutuan Kristen yang diada kan di sebuah pabrik logam. Dalam per sekutuan yang diadakan pada 21 Mei 1738 itu, hati Charles Wesley sangat tersentuh dan ia mengalami pertobatan sejati. Tindakan Charles Wesley sebagai orang Kristen yang sudah dilahirkan kembali ialah mulai pelayanan dengan semangat dan cara yang baru. Selain menginjili dan mengajar di seluruh Inggris, Charles Wesley pun banyak mengarang syair lagu rohani.
Syair yang diciptakan Charles Wesley antara lain KJ.6 (Hai Masyhurkanlah), KJ.16 (Ya Khalik Semesta), KJ.30 (Angin Ribut Menyerang), KJ.31 (Mungkinkah Aku Pun Serta), Dengarlah Malak Menyanyi (Hark ! The Herald Angels Sing), dll. Salah satunya kita nyanyikan pada hari minggu ini yakni KJ.30A “Angin Ribut Menyerang” (Jesus Lover of My Soul). Syair lagu ini diciptakan saat Charles Wesley sedang berada di daerah Killyleagh, Irlandia. Di sana dia di serang oleh sekelompok orang yg tidak se paham dengan doktrinnya. Sehingga dia melarikan diri dan bersembunyi di bela kang rumah susu (tempat dimana sapi-sapi diperah/diambil susunya). Pada kondisi tersebut, dia menulis hymn abadi ini.
Jesus, lover of my soul,
let me to Thy bosom fly,
While the nearer waters roll,
while the tempest still is high.
Hide me, O my Savior, hide,
till the storm of life is past;
Safe into the haven guide;
O receive my soul at last
Angin ribut menyerang
menggetarkan hatiku
Ombak ganas menerjang,
aku lari padaMu
Juruslamat tolonglah
dan pandukan bidukku
Hingga sampailah
di labuhan yang teduh.
Ingatlah, jika Tuhan mengizinkan badai menyerang hidup kita, Ia ingin mem bentuk kita menjadi pribadi yg lebih baik, lebih kuat lagi. Dan ketika kita mengarungi badai tersebut, biarlah Tuhan saja yang menjadi pandu kita sehingga kita bisa sampai di labuhan yang teduh.
Warta GKI Sunter Mas 7 Agustus 2011
Subscribe to:
Comments (Atom)



