Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. (Efesus 2:19-20)
Hari ini, kita sebagai Gereja Kristen Indonesia merayakan 23 tahun perjalanan bersama. Berbagai dinamika telah mewarnai perjalanan selama 23 tahun tersebut. Dengan mengangkat tema "Tuhan Dasar Segala Sesuatu", ingin mengingatkan kembali bahwa tanpa Tuhan, tidak akan mungkin kita dapat sampai di usia yang ke-23 ini.
Lagu KJ 252 "Batu Penjuru G’reja" (The Church’s One Foundation) yang dibawakan pada kebaktian hari ini sangat cocok dengan tema yang diangkat, Yesuslah Sang Batu Penjuru G’reja dan Dasar yang Esa. Lagu ini dibuat Samuel Sebastian Wesley pada 1864 dan syairnya dibuat oleh Samuel John Stone pada 1866. Lagu ini ditulis sebagai respon langsung dari pengajaran oleh John William Colenso yang membuat perpecahan/pemisahan (schism) antar gereja di Afrika Selatan.
Though with a scornful wonder men see her sore oppressed,
by schisms rent asunder, by heresies distressed;
yet saints their watch are keeping, their cry goes up, "How long?"
and soon the night of weeping shall be the morn of song.
Dilanda perpecahan dan faham yang sesat
Jemaat diresahkan tekanan yang berat
Kaum kudus menyerukan, “berapa lamakah?”
Akhirnya malam duka diganti trang cerah
"Schism" adalah pembagian/pengelompokan di antara orang-orang, biasanya terjadi di sebuah organisasi atau denominasi gerakan keagamaan. Namun biasanya kata ini digunakan untuk menunjukkan adanya perpecahan dari yang tadinya 1 menjadi banyak. Sedangkan Schismatic adalah orang yang menyebabkan terjadinya perpecahan.
Lalu, apa sih sebenarnya batu penjuru itu? Batu penjuru yang dalam bahasa Yunani akrogonyaios merupakan batu dalam bentuk khusus, yang digunakan untuk menjadi pengikat pada sebuah bangunan pada jaman dahulu di Israel. Batu penjuru memiliki bentuk khusus agar dapat berfungsi sebagai pengikat, dan harus ditempatkan di tempat yang tepat untuk dapat mengikat struktur bangunan tersebut. Biasanya batu penjuru diletakkan di sudut tembok.
Nah, apa hubungannya "Tuhan Dasar Segala Sesuatu, Batu Penjuru" dan "Schism"? Di dalam gereja, rentan sekali akan timbulnya konflik-konflik. Perbedaan pendapat sedikit cenderung dapat membuat orang terpecah menjadi kelompok-kelompok. Jika tidak disikapi dengan bijaksana, kelompok-kelompok ini yang selanjutnya dapat menimbulkan perpecahan di dalam gereja. Padahal perlu diingat, ketika kita berada di dalam gereja, seharusnya ketika membuat keputusan bukan lagi untuk memenuhi kepuasan ego kita semata tetapi seharusnya diselaraskan dengan kehendak Tuhan. Dan yang terpenting, ketika ada permasalahan hendaklah itu tidak membuat kita undur dalam pelayanan. Biarlah Tuhan yang menjadi dasar kita dalam melakukan segala sesuatu.
Warta Jemaat GKI Sunter Mas 21 Agustus 2011
No comments:
Post a Comment