Translate

Sunday, August 14, 2011

Charles Wesley

Charles Wesley lahir di Epworth, Lincolnshire, England, 18 Desember 1707 dan meninggal di London, England, 29 Maret 1788 pada umur 80 tahun. Charles Wesley adalah pemimpin gerakan Metodis di Inggris, anak dari pendeta Gereja Anglikan dan penyair Samuel Wesley, merupakan adik kandung dari pendeta gereja Metodis John Wesley.

Setelah Charles Wesley & John Wesley menyelesaikan studinya di Universitas Oxford, mereka menyerahkan diri untuk menjadi pekabar injil. Namun ironisnya walaupun sudah pelayanan, mereka masih ragu akan keselamatan, sampai suatu ketika setelah kepulangannya ke London, Charles Wesley di undang untuk mengikuti Persekutuan Kristen yang diada kan di sebuah pabrik logam. Dalam per sekutuan yang diadakan pada 21 Mei 1738 itu, hati Charles Wesley sangat tersentuh dan ia mengalami pertobatan sejati. Tindakan Charles Wesley sebagai orang Kristen yang sudah dilahirkan kembali ialah mulai pelayanan dengan semangat dan cara yang baru. Selain menginjili dan mengajar di seluruh Inggris, Charles Wesley pun banyak mengarang syair lagu rohani.

Syair yang diciptakan Charles Wesley antara lain KJ.6 (Hai Masyhurkanlah), KJ.16 (Ya Khalik Semesta), KJ.30 (Angin Ribut Menyerang), KJ.31 (Mungkinkah Aku Pun Serta), Dengarlah Malak Menyanyi (Hark ! The Herald Angels Sing), dll. Salah satunya kita nyanyikan pada hari minggu ini yakni KJ.30A “Angin Ribut Menyerang” (Jesus Lover of My Soul). Syair lagu ini diciptakan saat Charles Wesley sedang berada di daerah Killyleagh, Irlandia. Di sana dia di serang oleh sekelompok orang yg tidak se paham dengan doktrinnya. Sehingga dia melarikan diri dan bersembunyi di bela kang rumah susu (tempat dimana sapi-sapi diperah/diambil susunya). Pada kondisi tersebut, dia menulis hymn abadi ini.

Jesus, lover of my soul,
let me to Thy bosom fly,
While the nearer waters roll,
while the tempest still is high.
Hide me, O my Savior, hide,
till the storm of life is past;
Safe into the haven guide;
O receive my soul at last

Angin ribut menyerang
menggetarkan hatiku
Ombak ganas menerjang,
aku lari padaMu
Juruslamat tolonglah
dan pandukan bidukku
Hingga sampailah
di labuhan yang teduh.


Ingatlah, jika Tuhan mengizinkan badai menyerang hidup kita, Ia ingin mem bentuk kita menjadi pribadi yg lebih baik, lebih kuat lagi. Dan ketika kita mengarungi badai tersebut, biarlah Tuhan saja yang menjadi pandu kita sehingga kita bisa sampai di labuhan yang teduh.

Warta GKI Sunter Mas 7 Agustus 2011

No comments:

Post a Comment